Mengenai Saya

Foto saya
Sebelum ajal menjemput, tinggalkan jejak yang bermanfaat.

Sabtu, 19 September 2015

Serunya Dunia Kanak-Kanak.

   Bos saya punya anak balita. Senang? Iya. Senang. Kadang-kadang bikin capek juga. Kok? Iya. Sebut saja nama bocah ini si Dudung. Dia dengan tingkah kekanakannya begitu pintar mondar-mandir. Tangannya tak pernah bisa berhenti diam. Pegang ini itu. Panci dipukul-pukul. Malahan kalau lihat korek gas langsung dinyalain. Cekrek! Cekrek! Tanpa khawatir, itu api muncul. Dan dia memegangnya. Hehehe. Panaslah. Sakitlah.

   Tapi, anehnya si Dudung tidak kapok. Dia berlarian. Menyalakan kran air. Ditampungnya air ke dalam ember. Dimain-mainkannya dengan penuh riangnya. Ada botol minuman kosong lalu diisi air. Diciprat-cipratkan ke lantai. Jadi beceklah.

   Terkadang kesal juga melihat keagresifan si Dudung. Tapi, ah namanya juga masih kanak-kanak. Belum tahu ini aman itu bahaya. Bisik suara hati saya. Untuk mengemong butuh daya kesabaran yang besar.
Melihat anak kecil itu mengingatkan saya dulu. Ketika itu tangan mungil saya terkena air panas. Ini karena kesalahanku juga lantaran terlalu banyak gerak. Waktu itu, saya digendong kakek dengan kain jarik. Dan tangan bekas terkena air panas ith diolesi odol.

   Sekarang saya baru ngeh, begini to punya anak balita. Perhatian, kasih sayang yang tulus dan kesabaran ekstra menjadi hal yang mendasar. Dunia kanak-kanak adalah dunia penuh keceriaan, dunia main-main, dunia rasa pemuasan keingintahuan yang besar. Dunia coba-coba yang penuh resiko. Dan itu sesuatu yang lazim.

   Saya bisa mengambil inti pelajaran kehidupan. Belajar dimulai sejak manusia lahir. Belajar apa saja. Lalu menanjak ke ujian yang lebih tinggi. Dan peran orang tua selaku pendidik utama adalah terus meningkatkan ilmu, baik dengan membaca atau sharing pengalaman dengan yang lebih tua.

Nice idea!

Kamis, 17 September 2015

Pembenci Versus Pecinta

Seorang pembenci amat rentan terjangkiti ragam penyakit hati, seperti iri, dengki, gampang emosi, suka berprasangka negatif. Dia selalu underestimate. Melihat segala sesuatu dengan kacamata gelap. Seorang pembenci dalam hatinya tidak ada istilah damai, ketenangan, isinya cuma perang dan permusuhan.

Seorang pecinta adalah cara memandang penuh jiwa kebaikan. Tak mudah melayangkan asumsi negatif pada setiap orang. Hati seorang pecinta jernih sejernih mata air pegunungan. Bercahaya teduh selayak mentari pagi.


Dia berpikir : buat apa menaruh benci di hati, toh pada akhirnya benci itu akan membunuh jiwanya. Dia enggan menjadi tawanan dari raja kebencian yang berkuasa di hatinya. Cara berpikirnya amat mendalam. Buat apa bermuka masam, dia lebih suka berwajah manis. Membawa keindahan pesan.

- Mei 2014 -
Wow. akun blog ku kembali hidup. aku seneng sekali.